Tiga Peristiwa Penting Di Bulan Maulid

Oleh : Romo K.H. Abdul Nashir Fattah (Pengasuh Ponpes Bahrul ‘Ulum Putra Induk)

Begitu kita memasuki bulan Rabi’ul awal atau Maulid, maka kita akan mengetahui dan melihat – dimana-mana, di desa-desa, di kota-kota kecil maupun kota-kota besar, di Mushalla-mushalla dan di Masjid-masjid – umat islam sama-sama mengadakan peringatan Mauludan, mengenang dan mengenangkan sejarah hidup dan perjuangan baginda Rasulillah Muhammad Saw. Ada tiga hal dan peristiwa yang amat penting yang terjadi didalam bulan Maulid yang menyangkut langsung dengan sejarah hidup dan perjuangan beiau baginda Rasulillah Saw.

Yang pertama, yaitu lahirnya baginda Rasulillah Saw di kota Makkah pada hari Senen, 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah yang betepatan dengan tanggal 23 April 571 M. Beliau dilahirkan ditengah-tengah masyarakat yang penuh dengan bermacam-macam kebobrokan, keburukan, kebodohan, kedhaliman dan kekufuran. Kelahiran baginda Rasulillah Saw ini membawa kebaikan, membawa kebenaran, membawa keadilan, membawa kemakmuran dan kebahagiaan yang penuh dengan keberkahan dan kasih sayang. Seakan-akan kelahiran beliau itu bagaikan lampu pelita yang menyinari dunia yang gelap gulita.

Peristiwa penting yang kedua, yaitu Hijrahnya baginda Rasul Muhammad Saw dari kota Makkah menuju kota Madinah pada hari Senen, 12 Rabi’ul Awal, 13 tahun setelah kenabian. Setelah beliau menetap di Makkah selama 53 tahun untuk menanam keadilan, menanam kebenaran, menanam kebahagiaan dan menanam rasa kasih sayang dengan sesama manusia, tidak sedikit beliau mengalami berbagai macam dan bentuk rintangan, hambatan dan ancaman. Bahkan usaha pembunuhan terhadap beliau jika beliau tidak menghentikan risalah dakwahnya, mengajak kepada umat manusia untuk memeluk agama Islam yang sempurna dan di ridlai Allah Swt. Semua rintangan, hambatan dan ancaman tersebut beliau hadapi dengan teguh, sabar, yakin serta kepercayaan diri yang mendalam atas datangnya pertolongan Allah Swt.

Pada suatu saat paman baginda Rasulillah Saw, Abu Thalib meminta agar beliau mau menghentikan kegiatan dakwah islamiyahnya atas desakan orang-orang kafir Makkah. Permintaan sang paman beliau tolak dengan berani dan tegas. Beliau berkata kepada pamandanya:

((يَا عَمِّ، لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِيْ يَمِيْنِيْ وَالقَمَرَ فِيْ يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ))

“Wahai paman, seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku menghentikan (meninggalkan) dakwah ini, maka aku tidak akan meninggalkannya.”(1) Selanjutnya, hal tersebut terus menerus datang bertubi-tubi menimpa dan menghadang perjuangan baginda Rasulillah Saw. Adalah ‘Utbah bin Rabi’ah, salah satu pembesar orang-orang kafir saat itu, datang menghadap baginda Rasulillah Saw menawarkan harta benda yang melimpah ruah, pangkat yang tinggi serta wanita-wanita tercantik disaat itu. Semua yang ditawarkan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah ditolak mentah-mentah oleh baginda Rasulillah Saw seranya membacakan 13 ayat dari surat “Fushshilat”, yaitu:

{حم. تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمْ. كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ. بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ}

“Hanya Allah Swt yang mengetahui makna yang hakiki dari lafadh “Hamim”. (Kitab yang) diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (adalah:) Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni (berupa) bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (untuk kaum yang mau memahami), (kitab itu adalah kitab) yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka (orang-orang kafir tetap saja) berpaling (dari iman. Mereka tetap saja tidak mau beriman. Mereka tetap saja) tidak mau mendengarkan.” [QS. Fushshilat: 1-4] Selanjutnya, pada ayat ke 13, Allah Swt berfirman:

{فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودْ}

“(kemudian, setelah itu,) jika mereka berpaling (dari iman, mereka tetap saja tidak mau beriman), maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. [QS. Fushshilat: 13]

Setelah ‘Utbah bin Rabi’ah mendengarkan bacaan ayat-ayat al Quran yang begitu indah, begitu mempesona, begitu menakjubkan, ‘Utbah bin Rabi’ah berubah pikiran dan kembali menemui orang-orang kafir Makkah seraya berkata dan berpesan kepada mereka:

“Sungguh aku telah mendengarkan suatu ucapan. Sungguh ucapan itu bukan syi’ir, bukan sihir dan juga bukan tenung. Wahai kaumku, tha’atilah aku. Biarkan saja Muhammad melakukan apa saja yang ia ingin lakukan. Jangan kalian rintangi. Sunnguh ucapannya itu kelak akan menjadi berita yang menggemparkan”.

Mendengar ‘Utbah bin Rabi’ah berkata demikian, tidak seperti apa yang mereka inginkan dan harapkan, lalu mereka orang-orang Quraisy berkata:

“Wahai ‘Utbah, sungguh kamu telah terkena sihirnya Muhammad”.

“Ini adalah pendapat saya, selanjutnya, terserah kalian”, demikian ‘Utbah bin Rabi’ah menjawab.(2) peristiwa penting yang ketiga adalah: Wafatnya baginda Rasulillah Saw di Madinah, pada hari senen, 12 Rabi’ul Awal 23 H. Beliau mewariskan kebenaran, mewariskan kejujuran, mewariswkan kemakmuran, mewariskan kebaha-giaan serta kasih sayang yang sempurna. Allah Swt berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا}

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.“ [QS. al Maidah: 3]. Jasa baginda Rasul Muhammad Saw terhadap umat manusia itu begitu besar, begitu agung, begitu banyak. Jasa beliau tidak bisa kita terangkan dengan perkataan, tidak bisa kita tulis dengan tinta dan tidak bisa pula kita gambarkan dengan otak dan pikiran.

Hidupnya baginda Rasul Muhammad Saw itu berguna bagi umat Islam. Wafatnya beliau juga berjasa terhadap umat Islam, Sebagaimana beliau bersabda:

((حَيَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَيُحَدَّثُ لَكُمْ، فَإِذَا أَنَا مُتُّ كَانََتْ وَفَاتِيْ خَيْرًا لَكُمْ، تُعْرَضُ عَليَّ أَعْمَالُكُم، فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ اللهَ، وَإِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اِسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ)).

“Hidupku itu lebih baik untuk kalian. Kalian menceritakan kepadaku masalah-masalah yang kalian hadapi, lalu aku menceritakan jalan keuarnya untuk kalian. Ketiaka aku wafat, maka wafatku itu juga lebih baik untuk kalian. Karena semua amal perbuatannu akan ditampakkan kepadaku. Ketika amal itu aku ketahui baik, maka aku memuji Allah dan jika amal itu aku ketahui jelek, maka aku mohonkan ampun untuk kalian.”(3)

Baginda Rasulillah Saw wafat pada hari Senen. Selang tiga hari kemudian, pada malam Rabu tengah malam baru dimakamkan. Tidak ada suatu musibah yang paling besar yang menimpa umat Islam seperti musibah wafatnya baginda Rasul Muhammad Saw, salah satu Nabi yang paling dicintai umat Islam pada masa itu, masa kini dan masa-masa yang akan datang.

Pada saat beliau wafat, ada diantara para sahabat yang mendadak bisu, tidak bisa berbicara, seperti Sayidina Utsman bin Affan Ra. Ada yang diam bagaikan tunggak, seperti Sayidina Ali Ra. Ada yang mendadak meninggal dunia, seperti Abdullah bin Unais Ra. Dan ada pula yang bingung, mundar mandir kesana kemari, galau dan gupuh, seperti Sayidina Umar bin Khattab Ra.(4) Kesemuanya ini adalah gambaran sebagian kecil dari kesusahan, kesedihan dan kegalauan yang dialami oleh para sahabat Radliyallahu a’nhum atas musibah wafatnya baginda Rasul Muhammad Saw.

Ketika Jenazah baginda Rasul Muhammad Saw berada dikamarnya Siti Aisyah Ra sebelum dimakamkan, Sayidina Abu Bakar Ra masuk kedalam kamar. kemudian ia mendekat dan membuka kain penutup wajah baginda Rasul Saw yang agung, lalu ia mengecupnya dengan perasaan yang begitu sangat amat susah dan sedih seraya berkata:

(فِدًى لَكَ أَبِي وَأُمِّي، مَا أَطْيَبَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا)

“Bapak dan ibuku aku jadikan tebusan bagimu. Alangkah bagusnya kamu, baik ketika kamu masih hidup maupun ketika kamu telah wafat”(5)

Semenjak masa kecil, baginda Rasul Muhammad Saw selalu mempunyai nama yang baik. Beliau selalu disenangi dan dicintai oleh anak-anak sebayanya. Tidak ada satupun catatan dalam sejarah yang menjelaskan sifat dan perilaku buruk yang ada pada diri beliau. Dimasa mudanya, nama baik beliau justeru semakin bertambah harum semerbak. Setelah beliau beristeri, nama baiknya semakin bertambah baik, hingga ketika umur beliau memasuki 35 tahun, orang-orang diwaktu itu memberikan julukan “Al Amin” kepadanya. Sepanjang hidupnya, beliau adalah orang yang dapat dipercaya. Beliau adalah orang yang tidak pernah dan tidak akan pernah berbohong. Beliau adalah orang yang bijaksana. Beliau adalah orang yang adil. Beliau adalah orang yang didalam hatinya penuh dengan rasa kasih sayang, sehingga Allah Swt pun memuji baginda Rasul Muhammad Saw dalam firman-Nya:

{وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْم}

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [QS. Al Qalam: 4]

Yang dimaksud “Khuluq ‘adhim” yaitu “Adab al Quran, tata krama dan pekerti yang diperintahkan al Quran.” Hal ini sebagaimana jawaban ‘Aisyah Ra ketika beliau ditanya oleh Abu Darda Ra, bagaimanakah khuluq nya Rasulullah Saw?. ‘Aisyah menjawab:(كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، يَغْضَبُ لِغَضَبِهِ، وَيَرْضَى لِرِضَاهُ) “Khuluq nya Rasulullah adalah Al Quran. Beliau marah karena Allah marah dan beliau ridla karena Allah ridla”(6). Wallahu ‘alam bisshawab.

==========================

(1). As Sirah Al Halabiyyah, I/ 408; Subulul Al Huda War Rasyad, II/ 327 dll.

(2). Imta’ul Asma’, IV/ 343; Hasyiyah Az Zarqani ‘Ala Al Mawaahib Al Ladunniyyah, I/ 480 dll.

(3). As Sirah Al Halabiyyah, III/ 486; Al Khashaais Al Kubra, II/ 491 dll.

(4).Hasyiyat Az Zarqaani ‘Alaa Al Mawaahib Al Ladunniyyah, XII/ 142.

(5). Musnad Ahmad, I/ 198; Kanzu Al ‘Ummal, V/ 637 dll.

(6). Musnad Ahmad, VI/ 91; Al Mu’jam Al Ausath, I/ 30 dll.

Sumber dari Facebook beliau Romo KH. Abdul Nashir Fattah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *