Masuknya islam ke Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri, lebih dahulunya hindu dan budha masuk ke Indonesia menjadikan islam harus berkolaborasi dengan budaya terdahulu namun walaupun demikian tidaklah melunturkan aspek aqidah yang dibawa namun hanya kemasanya yang ditingkatkan agar lebih memiliki nilai jual yang tinggi, itu sebabnya islam datang di Indonesia datang tanpa harus mengangkat senjata. Sosok dibalik kampanye hebat ini tidaklah lepas dari peran wali songo, dengan kultur keluwesan dan toleransi yang tinggi mampu mengemas islam sehingga mampu memikat hati rakyat pada saat itu.

Berbagai ekspresi dakwah disampaikan, ada yang dengan menggunkan metode ta’lim atau pengajaran ada juga yang menggunakan metode penyampaian melalui budaya, diantara taktik yang digunakan adalah dengan melalui tembang atau syair. Kecenderungan masyarakat pribumi pada saat itu adalah menyukai musik, oleh sebab itu penyampaian syariat islam menggunakan syair menjadi senjata andalan untuk meneguhkan hati mereka dalam beragama.

Sosok wali songo yang menggunakan metode ini adalah sunan kalijaga, dengan lantunan syair lir ilir yang didalamnya terkandung makna yang sangat dalam mampu menghipnotis mereka yang mendengarkanya untuk selalu melakukan kebaikan dan muhasabah diri. Masing masing baris dalam syair terebut memberikan pemahaman bahwasanya apa yang kita lakukan hari ini adalah untuk mempersiapkan datangnya hari akhir. Namun pada tulisan ini kami akan menjabarkan arti dari tembang syair lir ilir dari pandangan seseorang yang mencari ilmu. Berikut adalah tembang syair beserta maknya yang terkandung didalamnya.

Lir-ilir, Ilir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh temanten anyar

Pada bait ini diawali dengan kata lir ilir atau jika dikiaskan dalam bahasa jawa menjadi ngelilir atau bangun dari tidur artinya seorang pelajar atau santri yang sedang mencari ilmu haruslah giat tidak bermalas malasan. Dilanjut dengan arti baris kedua yang mempunyai makna tanamanya sudah sumilir atau tumbuh, disini diartikan bahwasanya ilmu yang dicari oleh para santri sudah tersedia didepan mereka, tinggal terdapat kemauan atau tidak bagi mereka untuk mendapatkanya. Dalam syair baris ketiga dan keempat mempunyai arti bahwasanya mereka yang sukses dan bersungguh sungguh dalam mencari ilmu akan mendapatkan sebuah kebahagiaan dan kebahagiaan yang tidak dapat terukur layaknya kebahagiaan bagi pengantin baru

Cah angon, cah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodotiro

Di bait kedua ini seoarang yang sedang mencari ilmu diibaratkan seseorang yang sedang menggembala tentunya bagi seseorang yang menggembala mempunyai harapan bahwasanya apa yang digembalakan dapat bermanfaat entah nanti hewang yang digembalakan akan dijual atau disembelih ini mempunyai arti bahwasanya seseorang yang mencari ilmu haruslah mengamalkan ilmu yang dia dapat agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Pada baris kedua terdapat sebuah perintah untuk memanjat pohon buah belimbing, pohon belimbing ini pada umumnya mempunyai 5 sisi yang dapat diartikan sebagai rukun islam, seorang pelajar haruslah berjuang untuk menegakkan rukun islam dimanapun dia berada, sesulit apapun keadaan pada saat itu haruslah tetap berjuang ini adalah arti yang digambarkan oleh baris ketiga. Pada baris ke empat disebutkah sebuah tujuan bahwsanya apa yang kita telah lakukan tadi adalah untuk memperbaiki diri, mengintropeksi diri, untuk selalu berbuat baik kedepanya.

Dodotiro, dodotiro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jlumatono

Kanggo sebo mengko sore

Pada bait ketiga ini kita diingatkan oleh kanjeng sunan kalijaga bahwa pakaian yang kita pakai berlubang, ini mempunyai arti bahwasanya sebagai seseorang yang mencari ilmu haruslah selalu untuk memperbaiki akhlaq, karena seseorang dianggap baik apabila dia mempunyai akhlaq yang baik, dan bukan karena ilmunya yang banyak tapi karena akhlaq yang baik. Hal ini perlu disiapkan sebelum kita benar benar kembali kepada masyarakat. Karena pada hakikatnya nanti, seseorang yang mencari ilmu adalah generasi penerus ulama hari ini

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Pada akhir bait ini kita diingatkan bahwasanya kesempatan bagi seorang yang mencari ilmu untuk semakin memperdalam ilmunya sangatlah besar, tanpa sadari masih banyak kiai kiai, guru guru yang dengan senang hati dan ikhlas mencurahkan ilmunya, serta memberikan keberkahan bagi mereka yang mengabdi padanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *