Sejarah

Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang, merupakan salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur yang hingga hari ini masih survivedi tengah kecenderungan kuat sistem pendidikan formal. Dengan kultur dan kesederhanaan yang mandiri serta dekat dengan masyarakat, Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang terus melakukan pengembangan dan perubahan seiring dengan dinamika perkembangan dan tuntutan global, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kepesantrenan dan prinsip-prinsip AqidahAhlussunnah Wal-Jama’ah.

 Salah satu upaya yang telah dilakukan di tengah kecenderungan kuat sistem pendidikan formal, PondokPesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang hingga saat ini telah mendirikan 18 unit pendidikan formal mulai dari tingkat pra sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi. Disamping itu Pondok Pesantren Bahrul Ulum juga menjalin kerjasama dalam bidang pendidikan dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri diantaranya adalah Makkah, Syiria, Al-Azhar Kairo.

Secara struktural Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang berada di bawah naungan YayasanPondok Pesantren Bahrul Ulum. Yayasan ini berdiri sejak tahun 1966 melalui Akte Notaris No. 03 Tanggal 06 September 1966 dihadapan Notaris SOEMBONO TJIPTOWIDJOJO dahulu wakil notaris di Mojokerto.

LOKASI DAN SEJARAH PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM

Lokasi

Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang, terletak di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur, tepatnya ± 3 km sebelah utara kota Jombang. Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang, secara keseluruhan menempati areal tanah ± 10 Ha, dengan sosio kultur religious agraris.

Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum

  1. Periode Rintisan

 Periode Rintisan Pertama (Pondok Selawe / Pondok Telu  1825 M)

Sekitar tahun 1825 di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota Jombang, tepatnya di sebelah utara kota Jombang, di Dusun Gedang kelurahan Tambakrejo, datanglah seorang yang ‘alim, pendekar ulama atau ulama pendekar, bernama Abdus Salam namun lebih dikenal dengan panggilan Mbah Shoichah (bentakan yang membuat orang gemetar).Kedatangannya di dusun ini membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya.Menurut silsilah, beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit).Abdus Salam putra Abdul Jabbar putra Abdul Halim (Pangeran Benowo) putra Abdurrohman (Jaka Tingkir).

 Kedatangan Abdus Salam di desa yang semula masih hutan belantara, kurang lebih 13 tahun dia bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Setelah berhasil merubah hutan menjadi perkampungan, mulailah ia membuat gubuk tempat ia berdakwah yaitu sebuah pesantren kecil yang terdiri dari sebuah langgar, bilik kecil untuk santri dan tempat tinggal yang sederhana. Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe atau Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri 3 lokal beserta mushollanya. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M, kondisi tersebut adalah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Sementara itu menurut versi yang lain istilah 3 (telu) adalah merupakan representasi dari PondokSelawe atau Pondok Telu yang mengembangkan ilmu-ilmu syari’athakikat dan kanuragan. Hal itu didasarkan pada manifestasi keilmuan Mbah Shoichah sendiri yang mencakup ketiganya.

Periode Rintisan kedua

Setelah Kyai Shoichah (Abdussalam) berusia lanjut (sepuh: bahasa Jawa), tampuk pimpinan Pondok Selawe atau Pondok Teludiserahkan kepada dua menantunya yang tidak lain adalah santrinya sendiri. Kedua menantunya tersebut adalah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id. Dengan mendapat restu dari mertuanya Kyai Ustman dan Kyai Sa’id  menjadikan pondok menjadi dua cabang. Hal ini dikarenakan jumlah santri yang semakin bertambah banyak.Kyai Ustman mengembangkan pondok di Dusun Gedang yang tidak jauh dari pesantren ayah mertuanya yaitu di sebelah Timur sungai pondok pesantren, sedangkan Kyai Sa’id  mengembangkan pesantren di sebelah barat sungai.

Dalam penataan manajemen pendidikan pesantren yang diasuhnya, Kyai Ustman lebih berkonsentrasi mengajarkan ilmu-ilmu Thoriqot atau Tasawuf, sedangkan Kyai Sa’id mengajarkan ilmu-ilmu Syari’at.

  1. Periode Pengembangan

 Periode Pengembangan Pertama

Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id wafat, yang meneruskan tampuk pimpinan pesantren adalah Kyai Hasbullohputra Kyai Sa’id.Sedangkan pesantren Kyai Ustman tidak ada yang meneruskan karena beliau tidak mempunyai putra laki-laki.Akhirnya sebagian santri Kyai Ustman diboyong oleh menantunya yang bernama Kyai Asy’ari ke Desa Keras yang akhirnya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah Barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh.

Kyai Hasbulloh adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas.Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak.Konon karena hal itu daerah ini disebut Dusun Tambakberas dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas.

Dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat, dan guna kelanjutan pondok pesantren yang diasuhnya Kyai Hasbulloh banyak mengirimkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren, bahkan putra beliau yang tertua Abdul Wahab, dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu.

Periode Pengembangan Kedua (1914)

Pada tahun 1914 Kyai Abdul Wahab(Putra tertua Kyai Hasbulloh)kembali dari tugas belajarnya di tanah suci Makkah.Sejak saat itu Kyai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas.Beliau mengubah sistem pendidikan halaqoh menjadi sistem pendidikan madrasah.Dengan sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan, Pondok Pesantren Tambakberasberkembang semakin pesat, dan pada tahun 1915 Kyai Abdul Wahab mendirikan madrasah yang pertama (terletak disebelah barat masjid, sekarang dibangun gedung Yayasan PPBU).Madrasah tersebut diberi namaMadrasah Mubdil Fan.

Pada tahun 1920 Kyai Hasbulloh wafat.Maka pesantren ini dilanjutkan oleh Kyai Abdul Wahab, dengan dibantu oleh kedua adiknya yaitu Kyai Abdul HamiddanKyai Abdurrohimyang juga baru kembali dari studinya di tanah suci Makkah.Dalam penataan manajemen pengelolaannya, Kyai Abdul Hamid lebih berkonsentrasi terhadap pengelolaan pondok, sedangkan Kyai Abdurrohim bertanggungjawabmengelola madrasah.Kyai Abdul Wahab lebih banyak berkiprah dikancah organisasi sosial kemasyarakatan. Salah satu organisasi yang didirikannya adalah kelompok diskusi yang diberi nama Tasywirul Afkar yang berpusat di Surabaya pada waktu itu. Dan pada tahun 1926 beliau mendirikan organisasi yang diberi nama Nahdlatul Wathon dan pada akhirnya berganti nama menjadi Nahdlatul Ulamayang berkembang sampai sekarang.

Periode Pengembangan Ketiga

Pada tahun 1942 Kyai Abdul Hamid dan Kyai Abdurrohim memanggil keponakannya yang bernama Kyai Abdul Fattah menantu Kyai Bisri Syansuri Denanyar.Sebagai upaya regenerasi, pengelolaan madrasah diserahkan kepada Kyai Abdul Fattah.

Pada tahun 1943 Kyai Abdurrahim wafat, tugas-tugas beliau diteruskan oleh Kyai Abdul Fattah.Dibawah pimpinan Kyai Abdul Fattah, madrasah berkembang lebih baik lagi.Mengingat semakin bertambahnya jumlah santri, Kyai Abdul Fattah mendirikan gedung madrasah di dekat rumahnya yang kemudian oleh Kyai Abdul Wahab, madrasah tersebut diberi namaMadrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah (MII) dan kemudian berganti nama Madrasah Ibtida’iyyah (MI). Pada tahun 1944/1945, lahirtlah Madrasah putri yang pertama yang diprakarsai oleh Ny.Hj.R.Mas Wardiyah ( istri K.Abdurrohim).Disamping itu pada tahun 1951 Kyai Abdul Fattah dengan restu Kyai Abdul Wahab, mendirikan pondok pesantren putri Al-Fathimiyyah, serta pada tahun 1956 mendirikan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun.

Pada tanggal 06 Juni 1956 Kyai Abdul Hamid wafat, maka pengelolaanPondok Pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh Kyai Abdul Fattahsedangkan urusan madrasah diserahkan sepenuhnya kepada Kyai Al-Fatih putra sulung Kyai Abdurrohim. Dibawah pimpinan Kyai Al-Fatih madrasah berkembang semakin pesat, hingga pada tahun 1964, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun ditambah masa studinya menjadi 6 Tahun dan berubah nama menjadi Madrasah Mu’llimin Mu’allimat Atas.

Pada tahun 1965 Kyai Abdul Wahab memberi nama pondokpesantren ini dengan nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Pada tanggal 29 Desember 1971/ 11 Dzulqo’dah 1391 H. Kyai Abdul Wahab pulang ke rahmatulloh. Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum diteruskan sepenuhnya oleh Kyai Abdul Fattah dengan dibantu oleh para dzurriyah Bani Hasbulloh yang lain.

Pada tahun 1974 Kyai Abdul Fattah mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi namaAl-Ma’had Al-Aly. Pada tahun 1977 Kyai Abdul Fattah wafat.Setelah Kyai Abdul Fattah wafat, tampuk pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulumdilanjutkan oleh KH. M. Najib Abd. Wahab,L.MLputra ke tiga Kyai Abdul Wahab. KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada pentas nasional selain pernah menjabat sebagai Ro’is Syuriah PBNU.Pada tahun 1985 beliau bersama pengasuh yang lain juga menghidupkan Al-Ma’had Al-Alymenjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan menunjuk Drs. KH. Moh. Syamsul Huda As, SH.,M.HI sebagai ketua. Dalam kapasitas sebagai ketua Robithotul Ma’ahid (Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama), KH. M. Najib Abd. Wahab.L.ML menyelenggarakan Usbu’ul Ma’ahid (Pekan Pesantren se-JawaTimur), Pondok Induk melalui jalur formal pengurus, juga melalui ro’is khos (ketua komplek), mengamanatkan kepengurusan masjid kepada KH.Moh.Sholeh Abd.Hamid sebagai ketua ta’mirnya, menyelenggarakan pengajian sentral tiap Senin malam Selasa.Hingga pada tahun 1987 KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML pulang ke rahmatulloh.Sejak saat itu Pondok Pesantren Bahrul Ulum diasuh dengan menggunakan sistem kepemimpinan kolektif.

Periode Pengembangan Ke-4 (Kepemimpinan Kolektif )

Seiring dengan perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang semakin pesat dari tahun ke tahun, baik jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada di dalamnya, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada  diperlukan suatu manajemen kepemimpinan pondok pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari ide dasar itulah maka kemudian lahir pemikiran untuk membagi manajemen kepemimpinan pondok pesantren menjadi ;

  1. Majelis Pengasuh, yang berfungsi sebagai lembaga legislatif yang memiliki otoritas atau pemegang kebijakan tertinggi.
  2. Pengurus Yayasan, yang berfungsi sebagai eksekutif yang menjalankan semua program pengembangan dan pemberdayaan pendidikan semua lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
  3. Dewan Pengawas, yang berfungsi sebagai yudikatif, yaitu mengawasi, memberikan pertimbangan kepada pengurus yayasan dan memberikan masukan kepada majelis pengasuh. Dibentuknya dewan pengawas dalam struktur manajemen Pondok Pesantren Bahrul Ulum sejak tahun 2002, adalah sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-undang RI. No. 16 Tahun 2001 tentang yayasan.

Hingga saat ini, sejak kepemimpinan kolektif diterapkan, sudah mengalami dua periode kepemimpinan majelis pengasuh

  1. (Almaghfurlah) KH.M. Sholeh Abdul Hamid, 1987 – 2006

Pada masa kepemimpinan beliau, jabatan Ketua Umum Yayasan PPBU telah mengalami beberapa kali pergantian,  yaitu KH. Ahmad al-Fatich Abdur Rohim 1990 – 1994, Drs. KH.M. Hasib Abdul Wahab 1994 – 1998, Drs. KH. Fadhlulloh Abd. Malik 1998 – 2002, KH. Taufiqurrohman Fattah mulai tahun 2002 sampai sekarang. (beliau menjadi Ketua Umum selama dua periode 2002 – 2006 dan 2006 – 2009).

Pada saat ketua umum yayasan dijabat oleh KH.Ach. Taufiqurrohman Fattah, kemudian dimunculkan Peran Yudikatif (Dewan Pengawas) sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-Undang No 16 tahun 2001 tentang Yayasan, dan sebagai ketuanya adalah Ny.Hj. Mundjidah Wahab dan ketika periode 2006-2009  Dewan Pengawas terdiri dari KH. Fathulloh Abd. Malik, Drs. H.M. Faruq Zawawi M.Ag.,Ny. Hj. Salmah Nasir dan Edi Labib Patriadin.

  1. (Almaghfurlah) Drs. KH. Amanulloh Abdur Rochim 2007-2008

Ketika KH. Muhammad Sholeh Abd.Hamid wafat pada senin malam selasa tanggal 16 Syawal 1427 / 7 November 2006 tampuk pimpinan Majelis Pengasuh dipegang oleh alm.KH.Amanulloh AR. Sedangkan ketua umum yayasan masih dijabat oleh KH.Ach. Taufikurrohman Fattah. Beberapa kebijakan penting yang diambil pada saat KH. Amanulloh AR menjadi ketua majlis adalah diselenggarakannya Pertemuan Alumni Bahrul Ulum tingkat Nasional yang akhirnya membentuk suatu ikatan wadah alumni yang berrnama Ikatan Alumni Bahrul Ulum atau yang disingkat dengan nama IKABU. Selain itu, untuk terus mengharumkan kembali nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum di bumi nusantara beliau juga mengadakan Pertemuan Ulama dan Umara se Jawa dan Madura. Satu program besar lain  yang digagas oleh beliau adalah pembangunan gedung serba guna yang direncanakan berfungsi sebagai balai pertemuan maupun sarana olah raga santri santri Bahrul Ulum.  Namun sebelum pembangunan itu sempat terealisir, beliau sudah dipanggil oleh Allah pada 13 November 2007 pada usia 65 tahun, satu tahun persis setelah meninggalnya KH.M. Sholeh Abd.Hamid. Sejak KH. Amanulloh wafat, jabatan ketua majelis pengasuh – sesuai dengan kebijakan yang diambil semua anggota majelis pengasuh – dikosongkan untuk sementara waktu sampai berakhirnya kepengurusan tahun 2009 nanti.Dan untuk menjalankan roda organisasi di Majelis Pengasuh – sesuai dengan mekanisme dan job yang telah ditetapkan – maka untuk pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan lembaga pondok pesantren dipegang oleh KH.Abd.Nashir Abd. Fattah,  sedangkan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan formal dan hubungan dengan lembaga di luar PPBU dipegang oleh Drs.KH.M. Hasib Wahab, dan sebagai katibnya adalah KH. M. Irfan Sholeh. Adapun anggota majelis pengasuh sebagai berikut : Nyai Hj. Musyarrofah Fattah, Nyai Hj. Machfudhoh, Nyai Hj. Munjidah, Nyai Hj. Churun Ain Malik, Nyai Hj. Chafsoh, Nyai Hj. Zubaidah, Nyai Hj. Muchtaroh, Nyai Hj. Nurfiatin, KH. Ach.Djamaluddin.

Periode Pengembangan Tahun 2009

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, sampai dengan tahun 2014 ini sudah berusia 189 tahun, sedangkan madrasahnya berusia 99 tahun. Diusianya yang jauh melebihi kemerdekaan bangsa ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, telah berkembang pesat dengan beragam jenis dan jenjang pendidikan. Hingga saat ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki 34 unit asrama pondok pesantren dan 18 unit pendidikan formal dari tingkat Pra Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi, dengan jumlah santri unit pendidikan formal pernah mencapai 7000 orang, yang berasal dari berbagai daerah di penjuru tanah air. Selanjutnya mulai tahun itu pula (2009) melalui MUBES (Musyawarah Besar) Bani KH.Hasbullah Said, yang merupakan forum tertinggi Yayasan PP. Bahrul ‘Ulum disepakatilah estafet kepemimpinan PP. Bahrul ‘Ulum (sepeninggal KH.Amanulloh selaku Ketua Majelis Pengasuh sebelumnya dan KH.Ach.Taufiqurrohman sebagai ketua Yayasan) melalui perudingan dan musyawarah hingga dini hari maka disepakatilah KH.Hasib Wahab sebagai Ketua Majelis Pengasuh Pond.Pest. Bahrul ‘Ulum, KH. M. Irfan Sholeh sebagai Ketua Umum Yayasan Pond.Pest.Bahrul ‘Ulum dan Ny.Hj. Hizbiyyah sebagai Ketua Umum Yayasan Universitas Bahrul Ulum untuk masa khidmat 2009-2013. Adapun nama-nama anggota Majelis Pengasuh sebagai berikut : KH. Nashir Fattah (Wakil Ketua), KH. M. Fadhlullah Malik (Wakil Ketua), KH. M. Djamaluddin Ahmad, KH. M. Sulton A. Hadi, Ny. Hj. Machfudhoh Ali Ubaid, Ny. Hj. Mundjidah Wahab, Ny. Hj. Churun Ain Malik, Ny. Hj. Chafsoh Yahya, Ny. Hj. Muchtaroh, Ny. Hj. Zubaidah dan H. M. Soahul Am NB sebagai Katib.