Munadhoroh atau yang biasa dikenal dengan bahtsul kitab merupakan salah satu kegiatan rutin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Putra yang diadakan setiap hari Rabu malam, setelah kegiatan Madrasah Diniyah Al-Quran (MDQ) yang bertempat di jerambah masjid. Kegiatan ini dimulai pukul 21.30 WIB yang diikuti oleh santri kelas 2 sampai kelas 6 yang belajar di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Enam Tahun Bahrul Ulum. Namun santri lainnya yang tidak belajar di MMA pun boleh ikut berpartisipasi, bahkan ada beberapa santri mahasiswa yang ikut.
Latar belakang diadakannya munadhoroh ini karena merosotnya keinginan santri untuk menelaah kitab-kitab kuning (turats) yang mana hal itu menjadi suatu keharusan bagi santri untuk bekal bagi dirinya dan untuk didakwahkan kepada masyarakat. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini memacu santri untuk lebih meningkatkan keinginan untuk mendalami kitab kuning dan menelaahnya.
Pada hari Rabu tanggal 17 Oktober kemarin, munadhoroh dimulai pada jam 21.30 yang sebelumnya diadakan lalaran nadhom Alfiyah Ibnu Malik. Kegiatan dibuka oleh moderator yang dipimpin oleh saudara M. Wildan dengan membaca Ummul Kitab surah Al-Fatihah, ditujukan kepada seluruh Masyayikh Bahrul Ulum dan pengarang kitab-kitab kuning, khususnya yang akan dikaji yakni kitab Fathul Qorib karangan Syekh Abul Qosim Al-Ghozi. Setelah itu, moderator mempersilakan Qori’ untuk membacakan makna ala pesantren dan terjemah teks yang telah ditentukan. Qori’ yang bertugas kali ini adalah saudara Irsyad. Seluruh musyawirin yang hadir menyimak dengan baik apa yang dijelaskan oleh sang Qori’, meski ada beberapa yang mengobrol sendiri.
Moderator kemudian bertanya kepada para musyawirin tentang penjelasan dari Qori’, mana yang belum jelas atau belum paham. Jika dirasa sudah paham, moderator memberi kesempatan bagi musyawirin untuk bertanya. Pertanyaan dibatasi seputar masalah fiqih sebanyak 3 soal dan masalah nahwu shorof 2 soal. Kali ini yang dibahas adalah pasal tentang syarat wajib sholat dari awal sampai sebelum lafadh “as-sholawaatu al-masnuunatu”. Pertanyaan mulai dilontarkan oleh musyawirin: Pertama, apakah perbedaan syarat wajib dengan syarat sah dari segi maknanya?. Kedua, apa pengertian dari lafadh وهو حد التكليف?. Ketiga, mengapa pada syarat wajib (yang ada tiga) ini (ketiganya) menggunakan bentuk masdar, bukannya isim fa’il?. Keempat, إن حصل التمييز بها itu jawabnya mana?. Kelima, orang gila itu tidak wajib sholat karena tidak memenuhi syarat wajib yang ketiga. Lalu jika orang gila tersebut kembali sehat/waras, apakah dia wajib mengqodho’ sholatnya atau tidak?. Pertanyaan-pertanyaaan ditulis oleh notulen yang pada kali ini diwakili oleh saudara Avicena
Semua pertanyaan tersebut dimusyawarahkan bersama. Beberapa menyampaikan pendapatnya mengenai salah satu pertanyaan dan yang lainnya ada yang menyangkal atau menambahkan. Dalam munadhoroh, seringkali terjadi engkel-engkelan antara satu dengan yang lain untuk menguatkan pendapatnya masing-masing. Hal itu berlangsung hingga kurang lebih selama 1,5 jam dan tak terasa semua pertanyaan telah dijawab dan disepakati bersama dengan membaca Al-Fatihah. Namun, jawaban itu masih harus ditashihkan kepada kiai lagi agar menghasilkan jawaban yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tak terasa waktu berjalan sebab akhirnya sampailah di ujung acara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *