Manusia adalah makhluk sosial, yang mana antara satu dan yang lain saling membutuhkan. Dalam bermasyarakat kita dituntut untuk mengerti tentang etika atau norma yang sudah berlaku di tengah masyarakat tersebut. Khususnya kita sebagai bangsa Indonesia adalah bangsa yang dari dulu zaman nenek moyang dan tercatat di dalam sejarah sebagai bangsa yang selalu menjunjung tinggi gotong royong, bangsa yang tidak egois, bangsa yang selalu mau untuk  menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, untuk mengulurkan tangan dan menawarkan bantuan. Walaupun kita di Negara ini terdiri dari banyak ras, agama, suku, maupun golongan maka kita sebagai bangsa yang cerdas janganlah memandang sebuah perbedaan-perbedaan ini sebagai perpercahan namun sebaliknya kita harus memandang ini sebagai kekayaan yang mungkin Negara Negara lain tidak mempunyai apa yang Indonesia miliki. Bahkan adanya perbedaan bukan untuk kita permasalahkan atau kita debatkan tapi lebih baik untuk kita hargai. Islam pun menerangkan dalam Al Qur’an surat Hujurat ayat 10 yang berbunyi ;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yang artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuandan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Oleh karena itu dalam ajaran Nahdlatul Ulama kina dikenalkan dengan yang namanya Tasamuh atau toleransi yang mana toleransi adalah sikap saling menghormati, saling menerima, dan saling menghargai ditengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi, dan karaktermanusia[1].

Namun walaupun kita dituntut untuk selalu mengedepankan sikap tasamuh adakalanya kita juga harus memegang teguh jikalau yang menjadi masalah adalah urusan aqidah atau kepercayaan, kita tetap di tuntut menghargai orang lain tapi kita juga harus berkomitmen kepada aqidah atau kepercayaan yang kita miliki.

Sebagai bangsa yang cerdas kita dituntut juga untuk bersikap kritis terhadap apapun, termasuk dengan adat adat atau kebudayaan yang sedang berkembang ditengah kita saat ini. Berkembangya kebudayaan kebudayaan baru dikalangan kita saat ini sangat pesat dikarenakan perkembangan tekhnologi dan informasi yang semakin lama semakin maju. Oleh karena itu kita harus bisa selektif dan kritis memilih dan memilah terhadap kebudayaan kebudayaan baru khususnya untuk menghindari kebudayaan yang menyimpang. Dalam kaidah fiqh disebutkan

مراعاة العادات والاعراف فيما لا يخالف الشرع

Yang mana dalam kaidah tersebut kita diperintahkan untuk memperhatikan tradisi (kebudayaan) atau adat selagi tidak menyimpang dari syariat/aturan. Begitupun dengan kritis dan selektifnya kita khususnya terhadap suatu kebudayaan baru yang menyimpang  juga merupakan bentuk dari perhatianya kita terhadap bangsa ini,

Disini dapat disimpulkan bahwasanya sikap toleransi terhadap anatar bangsa itu penting selagi itu tidak menyangkut aqidah dari masing masing golongan dan ajakan untuk bergerak memilih dan memilah suatu kebudayaan yang menyimpang juga perl,u karena sebagai generasi penerus kita tidak mau apabila warisan nenek moyang yang dulu selalu mengajarkan kita untuk mengedepankan nilai nilai positif semakin lama semakin luntur. Oleh sebab itu kita sebagai generasi muda, sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan harus berpegang teguh pada prinsip “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” yang mana dalam pesan itu kita dituntut untuk selalu melestarikan kebudayaan atau adat yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik guna Indonesia lebih maju.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *