Semua makhluk adalah ciptaan Allah tanpa terkecuali. Mulai dari makhluk yang paling kecil seperti kutu, ataupun yang paling besar seperti matahari di luar angkasa. Semua berjalan beriringan sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Adalah sebuah keniscayaan apabila semua ciptaan Allah memiliki ciri khasnya masing-masing. Di setiap sudut dunia, manusia juga memiliki warna kemajemukan yang beraneka ragam, mulai dari budaya, suku, bahasa hingga agama. Di bagian bumi manapun kaki berpijak, pasti akan ditemui perbedaan di segala lapisan masyarakatnya. Karena perbedaan adalah sunnatullah dan merupakan karunia Tuhan yang penuh dengan hikmah dan pelajaran. Membayangkan semua manusia memiliki pikiran sama adalah angan-angan belaka, pun mengandaikan semua orang beragama sama juga merupakan ilusi belaka. Tak akan pernah kita jumpai satu negara yang hanya memeluk satu agama. Bahkan, jika ada, perbedaan pasti akan muncul pada level atas ajaran itu sendiri. Sehingga pada akhirnya, pluralitas (isme) agama adalah suatu keniscayaan yang tak bisa dihindari

Namun, pada tahap pemahaman tekstualnya penafsiran tentang pluralisme agama menjadi multitafsir. Banyak para cendekiawan muslim yang ada di Timur Tengah  dan para teolog di Barat berbeda pemahaman tentang ta’rif pluralisme. Walaupun pada hakikatnya mereka semua sepakat dalam satu tujuan, yakni mendamaikan semua pemeluk agama dan menyatukan mereka dalam satu ikatan persaudaraan.

Mendamaikan hubungan antar agama bukanlah perkara mudah. Selain karena pemahaman masing-masing agama yang memiliki sifat kepribadiannya sendiri-sendiri, secara fitrah manusia tidak akan mudah menerima kebenaran dari sesuatu yang berlawanan dengan keyakinannya, apalagi masalah agama. Setiap pemeluk agama pasti akan berkata bahwa agama yang diyakininya adalah yang paling benar. Permasalahan yang muncul kemudian adalah bahwa klaim eksklusivitas semacam ini terkadang tak mampu menyelesaikan pertengkaran keras antara para penganut agama. Fenomena yang terjadi adalah aksi saling kafir-mengafirkan. Dan tradisi saling mengafirkan itu sangat mengganggu ketentraman hidup manusia di sekelilingnya, bahkan bisa menjalar ke ranah yang lebih luas. Karena itu, dalam menyikapi keragaman agama dibutuhkan sikap yang cerdas dan bijak.

Dari sini kemudian para teolog dari berbagai agama mencoba mencari solusi atas persoalan tersebut. Dan salah satu solusi yang ditawarkan adalah apa yang dinamakan dengan pluralisme. Pemahaman tentang pluralisme ini memang tak pernah sepi dari perdebatan. Sebagian akan berpikir liar dengan menganggap pluralisme adalah hasil pemikiran liberal dan ujung-ujungnya akan memunculkan tuduhan murtad, namun di pihak lain tak sedikit yang meyakini bahwa sikap pluralis adalah keniscayaan dalam menyongsong kehidupan beragama yang lebih sejuk dan damai.

Penelusuran terhadap tafsir-tafsir keagamaan yang pluralistik dalam pemikiran sejumlah ulama al-Azhar tidak semudah membalik tangan. Harus diakui, isu pluralisme–dalam pemaknaan khusus-di lingkungan al-Azhar memang tidak begitu “hangat” diperbincangkan. Lain halnya dengan korpus kesarjanaan Barat yang menjadikan isu tersebut sebagai tema “seksi” dalam kajian filsafat agama.

Di dunia Barat teologi pluralisme dikembangkan banyak filsuf, teolog dan ilmuwan, seperti John Hick, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Wilffred Cantwel Smith, Rosemary Ruether, Paul F. Knitter, Gordon D. Kaufmann, Gavin D’Costa, Purusottama Bilimoria dan lain-lain. Beberapa tokoh Muslim juga sudah mencoba mengelaborasi gagasan pluralism agama ini seperti Ismai’il R. al-Faruqi, M. Mahmoud Ayoub, Sayyed Hosein Nasr, Abdul Kalam Azad, Fazlur Rahman, Hasan Askari, Mohamed Arkoun, Mohamed Talbi, Asghar Ali Engineer, dan sebagainya. Di Indonesia, cendekiawan Muslim yang berusaha membumikan gagasan ini, misalnya, mendiang Nurcholis Madjid, KH Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Jalaluddin Rachmat dan juga beberapa pemikir muda seperti Ulil Abshar ‘Abdalla, Zuhairi Misrawi, Abdul Moqsith Ghazali dan lain-lain.

Di Mesir, memang daya ledak isu pluralisme tidak sedahsyat yang kita dengar dari belahan bumi Barat dan Indonesia. Namun, menariknya, argumen-argumen keagamaan yang mendasari paham pluralisme ini bisa dilacak dalam pemikiran sejumlah ulama besar al-Azhar semisal Syekh Ahmad al-Thayyib, Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq, Syekh Sa’ad al-Din al-Hilaly, Syekh Mahmud Syaltut dan ulama-ulama besar lainnya.

Sungguhpun demikian, seperti yang pernah disampaikan oleh Syekh Ahmad al-Thayyib, al-Azhar akan tetap berdiri tegak sebagai institusi keagamaan yang mengusung Islam moderat. Dan basis utama dari nalar seorang azhari adalah pola pikir yang pluralistik (al-Fikr al-Ta’addudy). Syekh Tayyib menambahkan bahwa “pluralisme” al-Azhar adalah pluralisme yang berbasis pada moderatisme (al-Ta’addudiyyah al-Mabni ‘ala al-Wasathiyyah). Al-Azhar, misalnya, mengakui pluralisme mazhab dan pandangan-pandangan ulama yang terserak dalam korpus kesarjanaan Islam. Al-Azhar tak memasukkan dengan paksa racun fanatisme yang suka berkeyakinan bahwa kebenaran hanya monopoli mazhab tertentu dalam Islam.

Ulama al-Azhar berpandangan bahwa orang yang moderat adalah sosok yang mampu duduk melerai dua kubu yang saling bertentangan. Karena itu, pro-kontra mengenai pluralisme agama juga harus disikapi secara moderat; tak sepenuhnya ditolak, pun tak selamanya harus diterima. Inilah spirit utama yang mewarnai ajaran islam seperti yang terekam dalam al-Quran, wakadzalika Ja’alnakum ummatan wasatha, (2:142).

 

Ditulis oleh Rifqi Ramdhani Alumni PP Bahrul Ulum sekaligus mahasiswa Al Azhar Unervesity saat ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *